Aku hanya bisa pasrah, memandang kedepan dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang aku tatap. Sentuhan angin menusuk kulitku. Diam terpaku mengingat apa yang telah terjadi 3 hari yang lalu. Inginku menangis sekuat tenaga, tetapi aku sudah lelah untuk itu. Aku ingin teriak di lapangan luas, melepas semua beban hidupku, melepas bayang-banyang 'tentangnya'.
Ohiya, aku lupa, namaku Vita-sang-secret-admirer. Haha aku becanda, panggil saja aku Vita. Aku seorang secret admirer yang sangat menyesal. Tahu kenapa? Aku tak pernah bisa mengungkapkan isi hatiku terhadap orang yang aku cinta.
Aku mencintai seseorang laki-laki, namanya Bagas. Dia orang yang lucu, pintar, humoris, dan pastinya sangat rupawan. Sejak TK, aku sangat dekat dengannya, hingga saat ini kami memasuki kelas 1 SMA. Jujur saja, aku mulai merasakan getaran cinta itu semenjak kelas 1 SMP. Namun apalah daya, aku adalah anak yang penakut. Setiap kali aku berbicara dengannya, aku menjadi speechless dan selalu berusaha untuk tenang. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia tersenyum padaku. Sungguh manis senyumnya. Menulis surat? Aku sangat gemetar setiap ingin melukiskan perasaanku di atas sebuah kertas.
Hingga akhirnya ia menyukai Rani, anak paling cantik se-X1. Aku dan Rani berbeda sangat jauh. Dia anak yang populer dan modis di sekolah, sedangkan aku hanya siswi biasa yang tak populer dan tak dianggap. Dan hatiku mulai hancur ketika aku tahu, Rani juga menyukai Bagas. Aku mulai putus harapan, pikiranku pecah, entah cemburu macam apa yang kuderita. Dan lebih kagetnya aku ketika Bagas bercerita bagaimana saat dia menembak Rani. Hatiku hancur bagai kakek tanpa tongkat. Merasa kehilangan seseorang yang bukan milikku, mungkin aku semacam bodoh. Namun, salahkah bila aku hanya sekedar mengaguminya dari jauh? Aku tahu itu menyakitkan untukku. Tapi itu lebih baik daripada aku merusak hubungan mereka dan membuat Bagas sedih. Mungkin aku harus tetap tersenyum di depan 'mereka'. Aku tak boleh terlihat rapuh di depan Bagas. Dia tahu bahwa aku adalah wanita yang jarang menangis, apalagi hanya karena masalah cinta.
Hari itu, aku sudah 4 kali melihat Bagas jalan berdua dengan Rani. Tentunya aku memasang fake smile-ku yang sering kupakai ketika aku sedih. Bagaimana tak sedih? Melihat sesosok orang yang paling aku cinta, menggandeng seorang cewek yang jauh lebih baik daripada aku. Mereka menuju gerbang sekolah saat waktu menunjukkan pukul 14.00. Tetapi di ujung dekat gerbang, Rani berbelok ke kanan menuju ruang cheers. Dan Bagas pun menghampiri teman-temannya di warung seberang jalan. Aku tetap memperhatikannya dari lantai 2, tempat yang paling strategis untuk melihatnya secara jelas. Aku terus menatapnya, dengan cinta dan kesungguhan. Sampai kulihat ada sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah selatan, 2 orang yang seperti preman itu membawa sebuah tas dan seorang diantaranya membawa pisau. Entah apa yang terjadi. Seketika pisau itu menancap pada punggung Bagas. Hatiku seperti tertancap sesuatu. Air mataku yang mengalir deras di pipi, seakan menceritakan semua yang kurasa. Orang-orang disekitar tempat kejadian, seketika mengerumuni badan Bagas yang penuh dengan darah. Aku pun berlari bersama beberapa teman, termasuk Rani. Rani menangis sejadi-jadinya. Namun sebenarnya aku lah yang lebih teriris. Saat aku melihat Bagas lemah dan tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Memeluknya saja pun aku tak bisa. Memangnya aku ini siapanya? Fakta yang aku benci adalah aku bukanlah siapa-siapa baginya. Kupendam sesak di dada. Beberapa orang membawanya ke rumah sakit. Aku ingin sekali ikut, tetapi mereka menahanku agar tak terlalu ramai hanya untuk membawanya ke sana. Rani segera menelpon orangtua Bagas. Seandainya itu adalah aku yang menelpon orang tuanya.
Selasa pagi, tepatnya pukul 09.00, aku mendapat kabar dari Toni, teman Bagas, bahwa Bagas sudah tak bernyawa pada dini hari pukul 04.00. Air mata ini menetes dengan sendirinya. Aku sangat amat tidak rela dengan kepergiannya. Tapi kenapa? Kenapa harus Bagas? Kenapa bukan aku saja? jeritku dalam hati. Inikah rasanya kehilangan? Inikah rasanya penyesalan? Mengapa aku merasa kehilangan seseorang yang jelas bukan milikku? Pertanyaan yang kulontarkan seketika. Penyesalanku bertambah ketika aku ingat bahwa aku tak pernah jujur dengan perasaanku sendiri. Aku membohongi diriku. Aku mencintainya, sangat amat mencintainya. Doa akan selalu kuucap setiap kuingat namamu, semoga engkau tenang di alam sana. Dan berharap suatu saat aku bisa mengutarakan perasaan ini teradapmu. Selamat jalan, Bagas.
Jumat, 28 September 2012
Kamis, 27 September 2012
Test
Haaaai;---)
Ini blog ke-2 gue, dan disini khusus buat karya-karya gue. Dan berhubung gue suka nulis, mungkin isinya bakal kebanyakan cerpen. Tapi, gue mohon dengan sangat ya, jelek ataupun enggaknya pls jangan dijudge, kecuali lo udah perfect :p
Dan kesamaan nama, watak, tempat, waktu, tema, alur dan sebagainya hanyalah fiktif belaka.
Sekian dari gue, gue posting ceritanya besok-besok aja yap.
Ini blog ke-2 gue, dan disini khusus buat karya-karya gue. Dan berhubung gue suka nulis, mungkin isinya bakal kebanyakan cerpen. Tapi, gue mohon dengan sangat ya, jelek ataupun enggaknya pls jangan dijudge, kecuali lo udah perfect :p
Dan kesamaan nama, watak, tempat, waktu, tema, alur dan sebagainya hanyalah fiktif belaka.
Sekian dari gue, gue posting ceritanya besok-besok aja yap.
Langganan:
Komentar (Atom)